HALAMAN UTAMA

Kamis, 21 April 2011

GMAHK GELAR KKR DI KALABAHI


Pengobatan Gratis Adalah Pelayanan Kasih

GEREJA Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Daerah Nusa Tenggara melaksanakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di aula Hotel Kenari sejak tanggal 27 maret – tanggal 02 april 2011. KKR tersebut merupakan puncak dari tour rohani yang sebelumnya telah dilaksanakan dibeberapa titik di wilayah pelayanan yang ada di Kabupaten Alor, yakni Makemi, Lantoka, Padang Panjang, Lelahomi, Kokar, Petleng, Kalabahi, Kopidil, Moimol dan Alemba.
KKR puncak dibuka oleh Bupati Alor, Drs. Simeon Th. Pally yang dihadiri oleh segenap unsur Muspida. KKR berthema “Pencerahan kehidupan” itu, malam pertama dan kedua dipimpin oleh Pdt.Banjarnahor,M.Min. Sedangkan pada malam ketiga hingga hari terakhir KKR, kebaktian dipimpin oleh Ketua GMAHK Uni Indonesia Kawasan Barat, Pdt.DR.Peranginangin. Istri dari Pdt. DR.Peranginangin, Ny. Linda Saragih, M.BA, membawakan pelayanan rumah tangga. Dalam KKR itu juga, pelayanan kesehatan diberi tempat. Pelayanan Kesehatan tersebut dibawakan oleh Dr.Yohanis Manu, salah satu staf di Rumah Sakit Advent Bandung.
Pada siang hari selama KKR berlangsung, GMAHK juga melakukan pengobatan gratis. Pengobatan ini dipimpin oleh Dr.Yohanis Manu, Joko Santoso, dan Darma Sihombing. Kedua nama terakhir itu merupakan perawat di Rumah Sakit Advent Bandung yang turut terlibat secara aktif selama KKR berlangsung. Selain kedua perawat tersebut, Dr.Yohanis Manu juga dibantu oleh dua orang perawat lain, yakni Lia Tipka dan nona Ana. Lia Tipka bekerja sebagai perawat di Puskesmas Kokar, dan nona Ana bekerja sebagai Kepala Apoteker di Rumah Sakit Bergerak Kalabahi.
Pengobatan gratis tidak hanya berpusat di Kalabahi, tetapi juga dilakukan di delapan tempat berbeda. Kedelapan tempat tersebut adalah Kokar, Aimoli, Kopidil, Fung Afeng, Likwatang, Lelahomi, Alemba dan Moimol.
Berdasarkan patauan SUAR, animo masyarakat untuk terlibat dalam pelayanan tersebut sangat luar biasa. Di setiap titik di mana pengobatan gratis dilakukan, jumlah pengunjung berkisar antara 100-200 orang. Bahkan, jumlah pengunjung masih bertambah meski pengobatan gratis hendak berakhir.
Ketua GMAHK Distrik Alor, Pdt. George Penna, M.Min, yang merangkap koordinator pengobatan gratis, mengatakan, tingginya animo masyarakat bukan semata-mata disebabkan oleh kondisi kesehatan yang diderita pasien. Tapi lebih disebabkan oleh bentuk pelayanan yang diberikan. Sebab, pelayanan yang diberikan adalah pelayanan berdasarkan kasih. cha

SERPIHAN AMUNISI MAKAN TIGA PEMUDA DI KABIR

Whelmus Waang, korban serpian peluru


Serpihan amunisi yang mengakibatkan tiga orang pemuda terluka di Kabir, Pantar Timur, cukup mengagetkan masyarakat setempat. Spontan seluruh masyarakat panik terhadap kejadian tersebut. Sebab, kejadian itu terjadi di dalam pasar di mana aktivitas pasar sementara berjalan.
Salah satu kerabat korban, Thomas Waang, mendatangi redaksi belum lama ini dan menceritakan kronologis kasus itu. Berikut ini adalah kronologis lengkap kasus penembakan yang diakui kebenarannya salah satu korban, Wempi Waang.
Kira-kira jam 5 sore, (12/03), pasar Kabir masih ramai. Tujuh orang pemuda sedang berada di dalam sebuah rumah (tempat jualan) di pasar Kabir. Tiba-tiba terdengar bunyi seperti bunyi tembakan dari arah utara tempat ketujuh pemuda tersebut berada. Seluruh penghuni pasar, termasuk juga ketujuh pemuda, panik kemudian menyelamatkan diri. Setelah berada di luar rumah, beberapa menit kemudian, bunyi yang sama terdengar lagi. Bersama dengan penghuni pasar lain, ketujuh pemuda tersebut langsung lari tanpa arah.
Wempi Waang, salah satu dari ketujuh pemuda itu, dengan cepat mengemudi motornya ke luar dari pasar. Tidak berapa lama, terdengar teriakan beberapa warga terhadap Wempi bahwa baju bagian dadanya terdapat darah. Saat itu, Wempi baru mengetahui kalau dirinya terkena tembakan.
Tubuh Wempi kemudian lemas. Dengan bantuan beberapa warga, Wempi akhirnya dilarikan ke Puskesmas yang kebetulan jaraknya tidak jauh dari pasar.
Di puskesmas tersebut barulah diketahui kalau Wempi terkena dua serpihan yakni di dada dan di lengan kanannya. Serpihan di lengan kanannya berhasil dikeluarkan oleh petugas medis. Tapi, serpihan di bagian dadanya sulit dikeluarkan sehingga oleh bidan, Wempi direkomendasikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kalabahi. Malamnya, kira-kira jam 9, Wempi dilarikan menggunakan perahu motor carteran ke Alor Kecil untuk seterusnya dibawa ke RSUD Kalabahi. Di RSUD Kalabahi, Wempi dirawat secara intensif di Unit Gawat Darurat (UGD).
Selain Wempi, Palla Koho dan Koda juga terkena tembakan. Kedua pemuda tersebut adalah bagian dari ketujuh pemuda yang berada dalam rumah bersama dengan Wempi. Namun, luka pada lengan kanan kedua korban tidak terlalu parah, maka kedua korban tersebut dapat ditangani oleh bidan yang bertugas di Puskesmas Kabir. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kedua korban itu telah dipulangkan untuk dirawat di rumah masing-masing di Kabir.
Menurut Thomas, dua hari setelah kejadian itu warga Kabir belum mengetahui siapa yang diduga pelakunya. Empat orang saksi yang belum diketahui identitasnya belum berani mengatakan siapa pelakunya. Keengganan ketiga saksi untuk berkata jujur bukan disebabkan para saksi tersebut tidak mengenalnya. Tetapi, menurut Thomas, para saksi tersebut kuatir karena lelaki yang diduga pelaku tersebut memiliki catatan menakutkan tidak hanya bagi masyarakat Kabir tetapi masyarakat Kabupaten Alor secara umum.
Sehari setelah kejadian, Tim dari Polres Alor tiba di Kabir, beberapa saksi yang telah disebutkan di atas kemudian mengatakan dengan sebenarnya. Untuk menjaga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, rumah para saksi dijaga oleh beberapa kerabat korban.

Serpihan Masih Diperiksa
Sementara itu, Kapolres Alor, AKBP Dominikus Savio Yenvormase, melalui Kasat Reskrim Polres Alor, AKP Antonius Mengga, mengatakan, Tim Identifikasi Polres Alor telah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) tidak menemukan serpihan-serpihan di lapangan. Serpihan yang diperoleh hanyalah dari tubuh tiga orang korban setelah melakukan kerja sama dengan tenaga medis yang bertugas di Puskesmas Kabir.
Di samping itu, Polres Alor belum menemukan senjata atau alat yang digunakan pelaku. Sehingga sulit dipastikan apakah pelaku menggunakan senjata atau bom monotop dalam penembakan tersebut. Untuk memastikannya, Polres Alor masih menunggu hasil pemeriksaan serpihan di Laboratorium Forensik Brimob NTT di Kupang. Namun, Mengga mengaku, dari keterangan empat orang saksi, Opa Kaat menggunakan senjata untuk mencederai tiga pemuda tersebut. Kendati begitu, untuk manahan pelaku, Polres Alor harus memiliki barang bukti yang lengkap. TIM

Proyek PNPM-MP Pureman Bermasalah

KAREL TINABILA TIPU WARGA PUREMAN

BELUM lama ini, SUAR kedatangan tiga orang tamu dari Dusun II, 
Desa Kelaisi, Kecamatan Pureman. Masing-masing tamu itu adalah Ketua RT 03, Musa Etidena; Ketua RT 05, Petrus Sailana; dan Ketua RT 06, Michael Molina. Tujuan kedatangan ketiga pimpinan RT tersebut adalah melaporkan kebobrokan yang dilakukan Koordinator Tim Penggerak Kegiatan (TPK) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat-Mandiri Pedesaan (PNPM-MP) tahun 2010, Karel Tinabila.
Dalam pertemuan tersebut dilaporkan, Karel Tinabila melakukan sebuah proses pembodohan terhadap masyarakat Desa Kelaisi, khususnya di Dusun II. Salah satu contohnya, pembuatan jalan setapak cor tidak disesuaikan dengan harga jenis kebutuhan yang telah disepakati bersama delapan kelompok kerja.
Awalnya disepakati bahwa upah kerja perkelompok adalah Rp. 8.500.000,-. Namun setelah pekerjaan berjalan, secara sepihak kesepakan awal dirubah. Upah perkelompokan bukan lagi borongan tetapi menggunakan sistim harian. 
Keputusan Karel Tinabila tidak disepakati oleh kelompok-kelompok kerja. Selain itu, Karel Tinabila juga melakukan pemotongan upah perkelompok sebesar Rp.1.000.000,- dengan dalil untuk pengadaan material (semen).
Masyarakat telah mengkonfirmasi hal ini kepada Karel Tinabila. Sebab, masyarakat bingung terhadap ulahnya, dan bertanya apakah memang di PNPM-MP, ada aturan-aturan seperti itu atau tidak. Namun, Karel Tinabila selalu memberikan alasan yang membenarkan ulahnya.
Selain itu, aksi aneh lain yang dilakukan Karel Tinabila adalah mengintimidasi para buruh untuk menandatangani surat pemotongan upah kerja sebesar Rp.100.000/kelompok. Dari delapan kelompok, yang tidak menandatangani surat itu ada tiga kelompok yakni RT 03, RT 05 dan RT 06. Alasan tiga kelompok yang tidak menandatangi surat itu adalah bahwa apa yang dilakukan Karel Tinabila merupakan sebuah proses pembodohan dan penipuan terhadap masyarakat.
Perwakilan masyarakat dari ketiga RT itu sangat berharap kepada Kepala BPMD Kabupaten Alor agar segera membangun koordinasi dengan pihak-pihak yang berkompeten agar Karel Tinabila dapat membayar upah kerja sesuai dengan kesepakatan awal. Selain Kepala BPMD, masyarakat Pureman diharapkan dapat melihat persoalan ini. Sebab, ulah Karel Tinabila dapat menghambat proses pembangunan di Kecamatan Pureman. semi

DUA TAHUN JADI KADES, UNTUNG PULUHAN JUTA

Kades Mataru Utara Gelapkan Raskin

KEPALA Desa (Kades) Mataru Utara, Yeremias Lauata, diadukan tujuh warganya, yakni Yahya Padalani, Jefri Atakama, Paulus Alosina, Mateos Manimakani, Kanaan Lengmalu, dan Melkias Kamat. Ketika mendatangi Dapur SUAR belum lama ini, mereka (ketujuh warga) menyampaikan keluhan-keluhan sebelum menyerahkan surat dengan Nomor :01/Asp.MU/II/2011. Berdasarkan keluhan yang disampaikan, diketahui bahwa Yeremias Lauata telah menyalahgunakan jatah Beras Miskin (Raskn) Desa Mataru Utara sejak tahun 2009 hingga 2010. Yeremias Lauata dinilai telah menguras hak masyarakat Desa Mataru Utara. Oleh sebab itu, mereka sangat mengharapkan kepada pihak kepolisian untuk segera mengusut kasus penipuan ini.   
Berdasarkan surat yang diterima SUAR, jelas tertulis rincian penyalahgunaan Raskin yang dilakukan Yeremias Lauata. Dari rinciannya diketahui bahwa biaya Raskin yang dipungut dari tangan masyarakat sebesar Rp. 2.500/kg. Padahal menurut data masyarakat, biaya Raskin yang disetot ke DOLOG adalah Rp. 1600/kg. Di sini, Yeremias Lauata mendapat keuntungan dari pungutan tersebut sebesar Rp. 900/kg. Hal itu terjadi sepanjang tahun 2009.  Sehingga jika ditotalkan, Yeremias Lauata meraup untung sebesar Rp. 22.356.000,-.
Pada tahun 2010, jatah Raskin turun dari 15 kg menjadi 13 kg. Dalam 5 bulan pertama, biaya yang dipungut dari masyakarakat sebesar Rp. 8.970/kg. Dari pungutan tersebut, keuntungan yang diperoleh Yeremias Lauata sebesar Rp.900/kg. Sehingga bila ditotalkan, keuntungannya selama 5 bulan adalah sebesar Rp. 8.073.000,-. Hal yang sama terjadi pada 7 bulan tersisa. Keuntungan dari tiap kg Raskin masih sama yakni 900/kg. Oleh sebab itu, total keuntungan Yeremias Lauata dari 7 bulan itu sebesar Rp. 13.041.000,-. Maka, Yeremias Lauata meraup untung dari pungutan beras raskin sebesar Rp. 21.114.000,-. Sebuah jumlah yang fantastis bila diakumulasi keuntungan dari tahun 2009 dan 2010 yakni Rp. 43.470.000,-.
Anehnya, berdasarkan berdasarkan informasi, Raskin tersebut ditaruh di kiosnya untuk dijual kembali kepada masyarakat.
Oleh sebab itu, dari data tersebut di atas, selaku mewakili masyarakat Desa Mataru Utara, mereka memohon kepada pimpinan DOLOG agar distribusi Raskin ke Desa Mataru Utara untuk sementara dipending sambil menunggu terpilihnya Kepala Desa Mataru Utara yang baru.  
“Dari semua penyalagunaan kewenangan ini, kami masyarakat telah dirugikan. Untuk itu, kami mohon kepada pimpinan DOLOG agar dapat menolong kami masyarakat kecil. Sebab kami juga merupakan bagian dari masyarakat Alor yang membutuhkan perlindungan hukum demi hak kami yang disalahgunakan oleh pimpinan desa kami. Sekali lagi kami memohon kepada pimpinan DOLOG agar Kades Mataru Utara diproses sesuai hukum yang berlaku. semi