HALAMAN UTAMA

Kamis, 21 April 2011

Proyek PNPM-MP Pureman Bermasalah

KAREL TINABILA TIPU WARGA PUREMAN

BELUM lama ini, SUAR kedatangan tiga orang tamu dari Dusun II, 
Desa Kelaisi, Kecamatan Pureman. Masing-masing tamu itu adalah Ketua RT 03, Musa Etidena; Ketua RT 05, Petrus Sailana; dan Ketua RT 06, Michael Molina. Tujuan kedatangan ketiga pimpinan RT tersebut adalah melaporkan kebobrokan yang dilakukan Koordinator Tim Penggerak Kegiatan (TPK) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat-Mandiri Pedesaan (PNPM-MP) tahun 2010, Karel Tinabila.
Dalam pertemuan tersebut dilaporkan, Karel Tinabila melakukan sebuah proses pembodohan terhadap masyarakat Desa Kelaisi, khususnya di Dusun II. Salah satu contohnya, pembuatan jalan setapak cor tidak disesuaikan dengan harga jenis kebutuhan yang telah disepakati bersama delapan kelompok kerja.
Awalnya disepakati bahwa upah kerja perkelompok adalah Rp. 8.500.000,-. Namun setelah pekerjaan berjalan, secara sepihak kesepakan awal dirubah. Upah perkelompokan bukan lagi borongan tetapi menggunakan sistim harian. 
Keputusan Karel Tinabila tidak disepakati oleh kelompok-kelompok kerja. Selain itu, Karel Tinabila juga melakukan pemotongan upah perkelompok sebesar Rp.1.000.000,- dengan dalil untuk pengadaan material (semen).
Masyarakat telah mengkonfirmasi hal ini kepada Karel Tinabila. Sebab, masyarakat bingung terhadap ulahnya, dan bertanya apakah memang di PNPM-MP, ada aturan-aturan seperti itu atau tidak. Namun, Karel Tinabila selalu memberikan alasan yang membenarkan ulahnya.
Selain itu, aksi aneh lain yang dilakukan Karel Tinabila adalah mengintimidasi para buruh untuk menandatangani surat pemotongan upah kerja sebesar Rp.100.000/kelompok. Dari delapan kelompok, yang tidak menandatangani surat itu ada tiga kelompok yakni RT 03, RT 05 dan RT 06. Alasan tiga kelompok yang tidak menandatangi surat itu adalah bahwa apa yang dilakukan Karel Tinabila merupakan sebuah proses pembodohan dan penipuan terhadap masyarakat.
Perwakilan masyarakat dari ketiga RT itu sangat berharap kepada Kepala BPMD Kabupaten Alor agar segera membangun koordinasi dengan pihak-pihak yang berkompeten agar Karel Tinabila dapat membayar upah kerja sesuai dengan kesepakatan awal. Selain Kepala BPMD, masyarakat Pureman diharapkan dapat melihat persoalan ini. Sebab, ulah Karel Tinabila dapat menghambat proses pembangunan di Kecamatan Pureman. semi

DUA TAHUN JADI KADES, UNTUNG PULUHAN JUTA

Kades Mataru Utara Gelapkan Raskin

KEPALA Desa (Kades) Mataru Utara, Yeremias Lauata, diadukan tujuh warganya, yakni Yahya Padalani, Jefri Atakama, Paulus Alosina, Mateos Manimakani, Kanaan Lengmalu, dan Melkias Kamat. Ketika mendatangi Dapur SUAR belum lama ini, mereka (ketujuh warga) menyampaikan keluhan-keluhan sebelum menyerahkan surat dengan Nomor :01/Asp.MU/II/2011. Berdasarkan keluhan yang disampaikan, diketahui bahwa Yeremias Lauata telah menyalahgunakan jatah Beras Miskin (Raskn) Desa Mataru Utara sejak tahun 2009 hingga 2010. Yeremias Lauata dinilai telah menguras hak masyarakat Desa Mataru Utara. Oleh sebab itu, mereka sangat mengharapkan kepada pihak kepolisian untuk segera mengusut kasus penipuan ini.   
Berdasarkan surat yang diterima SUAR, jelas tertulis rincian penyalahgunaan Raskin yang dilakukan Yeremias Lauata. Dari rinciannya diketahui bahwa biaya Raskin yang dipungut dari tangan masyarakat sebesar Rp. 2.500/kg. Padahal menurut data masyarakat, biaya Raskin yang disetot ke DOLOG adalah Rp. 1600/kg. Di sini, Yeremias Lauata mendapat keuntungan dari pungutan tersebut sebesar Rp. 900/kg. Hal itu terjadi sepanjang tahun 2009.  Sehingga jika ditotalkan, Yeremias Lauata meraup untung sebesar Rp. 22.356.000,-.
Pada tahun 2010, jatah Raskin turun dari 15 kg menjadi 13 kg. Dalam 5 bulan pertama, biaya yang dipungut dari masyakarakat sebesar Rp. 8.970/kg. Dari pungutan tersebut, keuntungan yang diperoleh Yeremias Lauata sebesar Rp.900/kg. Sehingga bila ditotalkan, keuntungannya selama 5 bulan adalah sebesar Rp. 8.073.000,-. Hal yang sama terjadi pada 7 bulan tersisa. Keuntungan dari tiap kg Raskin masih sama yakni 900/kg. Oleh sebab itu, total keuntungan Yeremias Lauata dari 7 bulan itu sebesar Rp. 13.041.000,-. Maka, Yeremias Lauata meraup untung dari pungutan beras raskin sebesar Rp. 21.114.000,-. Sebuah jumlah yang fantastis bila diakumulasi keuntungan dari tahun 2009 dan 2010 yakni Rp. 43.470.000,-.
Anehnya, berdasarkan berdasarkan informasi, Raskin tersebut ditaruh di kiosnya untuk dijual kembali kepada masyarakat.
Oleh sebab itu, dari data tersebut di atas, selaku mewakili masyarakat Desa Mataru Utara, mereka memohon kepada pimpinan DOLOG agar distribusi Raskin ke Desa Mataru Utara untuk sementara dipending sambil menunggu terpilihnya Kepala Desa Mataru Utara yang baru.  
“Dari semua penyalagunaan kewenangan ini, kami masyarakat telah dirugikan. Untuk itu, kami mohon kepada pimpinan DOLOG agar dapat menolong kami masyarakat kecil. Sebab kami juga merupakan bagian dari masyarakat Alor yang membutuhkan perlindungan hukum demi hak kami yang disalahgunakan oleh pimpinan desa kami. Sekali lagi kami memohon kepada pimpinan DOLOG agar Kades Mataru Utara diproses sesuai hukum yang berlaku. semi

5 KELAS BELAJAR DALAM SATU RUANGAN


Siswa Ke Sekolah Bawa Meja Dan Kursi

Desa Taman Mataru dan Desa Mataru Timur, Kecamatan Mataru adalah dua desa pendukung SD GMIT Bagalbui. Akibatnya, jumlah siswa pada SD tersebut mencapai ratusan. Karena untuk sampai ke SD GMIT Bagalbui cukup jauh apalagi harus melintas gunung dan lembah, maka pada tahun 2006 manajemen SD GMIT Bagalbui membentuk SD Filial (kelas cabang) Fuihieng, Mataru Timur. Maka SD GMIT Bagalbui kemudian menjadi SD Induk. Saat ini, SD Filiel telah sampai pada kelas ke-5 dengan jumlah siswa 90 orang. Sedangkan SD GMIT Induk Bagalbui siswanya berjumlah 170 orang. Sehingga jumlah keseluruhan siswa pada SD tersebut adalah 260 orang anak. 
Menariknya, pada SD Induk dan SD Filial diberlakukan kelas rangkap. Kelas rangkap tersebut disebabkan oleh kurangnya ketersediaan ruangan.
Kepada SUAR, Andreas Atakama, A.Ma, Guru Kelas VI, membenarkan informasi yang dihimpun di atas. Lebih lanjut dikatakannya bahwa kelas I dan kelas II pada SD Induk digabung dalam satu ruangan untuk mendapat pelajaran secara bersama oleh satu orang guru. Hal itu menyebabkan Proses Belajar Mengajar (PBM) berjalan tidak efektif karena guru yang bersangkutan tidak bisa menyesuaikan materi ajar.
Hal yang sama dialami oleh Gidalti Ahalamani. Meski hanya sebagai pegawai perpustakaan, Gidalti sering mengajar pada kelas tersebut bila guru kelas pada kelas itu tidak masuk. Sehingga dirinya kesulitan menyampaikan materi ajar. Yang dilakukannya hanyalah menyampaikan materi ala kadarnya yang dapat dijangkau oleh kemampuan berpikir anak didik. Perlu diketahui bahwa materi yang disampaikannya tidak sesuai silabus.  
Hal yang sama terjadi di SD Filial. Bahkan, pada SD Filial kondisinya lebih parah. Berdasarkan pantauan SUAR, aula Kantor Desa Mataru Timur dijadikan sebagai ruang kelas. Ironisnya, ruangan tanpa sekat itu digunakan oleh lima kelas secara bersamaan. Maka, adalah rumit untuk melakukan PBM secara efektif. Sebab, sesuai data yang diperoleh, jumlah murid pada SD Filial adalah 90 orang anak.
Kursi dan meja yang ada di SD Filial hanya sebagian kecil saja yang disumbang oleh SD Induk. Sehingga sumbangan tersebut tidak sebanding dengan jumlah murid yang ada. Oleh sebab itu, agar para murid dapat menggunakan kursi dan meja pada saat PBM berlangsung, para murid diarahkan untuk membawa kursi maupun meja dari rumah. Namun, jika ada ibadah atau ada kegiatan di rumah, selama PBM murid yang bersangkutan akan terus berdiri atau duduk di lantai tanah dan menjadikan buku sebagai ganti meja. 
Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Sekolah, Albert Owpoli, S.Pd, mengatakan, pada SD Filial, Pemerintah Desa (Pemdes) telah memanfaatkan bantuan secara baik. Dari bantuan itu, empat ruangan kelas darurat segera digunakan pada pertengahan bulan april 2011.  semi

Mrs CHORRY DEBUUS, PAHLAWAN ATINGMELANG

Lokasi bekas tempat tinggal Mrs. Chorry Debuus
SEJARAH memang penting untuk dikenang. Karena sejarah adalah corong manusia beradab. Tidak heran kalau Presiden pertama kita, Bung Karno, dalam salah satu pidatonya, menekankan kepada kita agar jangan sekali-kali melupakan sejarah. Pidato tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Jas Merah. 
Desa Atingmelang, Kecamatan Alor Tengah Utara (ATU) memiliki cerita tersendiri. Pada tahun 1930 peneliti asal Amerika, Chorry Debuus, datang melakukan penelitian di Atingmelang. Saat itu, cawat adalah pakian yang digunakan oleh orang dewasa. Sedangkan anak-anak maupun remaja dibiarkan polos tanpa busana. Tambahan lagi, tidak seperti sekarang, saat itu nilai-nilai adat dan ke-sakral-an tarian lego-lego masih sangat kuat.   
Chorry Debuus berbaur dan menyatu dengan masyarakat Atingmelang. Chorry Debuus mewakili kelompok yang memiliki gaya hidup modern (pada masa itu) dan masyarakat Atingmelang mewakili kelompok marginal. Namun, sekat tersebut kemudian runtuh ketika Chorry Debuus datang dengan segala kesederhanaannya.
Di Atingmelang, Chorry Debuus sangat membantu masyarakat. Masyarakat seolah mendapat tabib dengan keahlian luar biasa. Segala jenis penyakit yang ada pada saat itu, diobatinya hingga sembuh hanya dalam sekali pengobatan. Obat-obatnya sederhana. Dengan beberapa bahan, obat mujarab dihasilkannya.
Tidak hanya itu saja. Chorry Debuus memberikan contoh bagaimana membangung sebuah rumah permanen menggunakan cor semen dan belahan bambu. Ukuran rumahnya 9x6 meter. Sejak itu, masyarakat Atingmelang membangun rumah yang cor menggunakan belahan bambu.
Di samping itu, Chorry Debuus dikenal cukup berani menghadapi tentara Belanda. Bukti keberaniannya adalah mengeluarkan masyarakat Atingmelang yang ditahan lantaran tidak mampu membayar pajak kepada tentara Belanda. Secara gamblang, Chorry Debuus mengatakan kepada tentara Belanda kalau para tahanan itu adalah kerabatnya.   
Tahun 1942 adalah tahun terakhir Chorry Debuus hidup bersama warga Atingmelang. Pada tahun itu, Chorry Debuus pulang ke negara asalnya, Amerika Serikat. Namun, sebelum berangkat Chorry Debuus berpesan bahwa rumahnya itu dibakar agar masyarakat Atingmelang tidak terancam.
Tidak berapa lama setelah kepergiaannya, Jepang masuk dan menguasai Atingmelang. Rumah Chorry Debuus dibakar bersama dua orang kepala kampung yakni Maleti dan Fatang.
Bertahun-tahun berlalu, ada seorang perempuan asal Swedia datang ke Atingmelang, tepatnya maret 2011. Perempuan itu bernama Amelia, murid Chorry Debuus. Kehadirannya disambut dengan linangan air mata seluruh masyarakat Atingmelang. Tarian lego-lego dan upacara adat dilakukan dengan meriah setelah suasan mengharukan itu usai. Amelia datang atas pesan gurunya, Chorry Debuus. Amelia disuruhnya ke Atingmelang untuk melihat bekas rumahnya. Yang masih tersisa dari rumah Chorry Debuus hanyalah fondasi. semi  

SD GMIT BAGALBUI PAKAI MEJA BUATAN BELANDA


Para siswa Sekolah Dasar Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Bagalbui, Kec. Mataru, Kab.Alor

SEKOLAH Dasar (SD) GMIT Bagalbui, Desa Mataru Timur, Kecamatan Mataru menyisahkan cerita pilu. Di SD tersebut, para siswa masih menggunakan meja buatan kolonial Belanda dalam Proses Belajar Mengajar (PBM). Panjang meja tersebut ± 2,5 meter dengan tinggi ± 50 cm. Menurut pegawai perpustkaan, Gidalti Ahalamani, meja-meja tersebut telah digunakan sejak sekolah itu di bangun pada tahun 1930-an.
Berdasarkan pantauan SUAR, permukaan meja memang masih terawat. Tapi tiang penopang meja sudah termakan rayap, belum lagi siku-siku beberapa meja tersebut yang telah patah. Kendati begitu, sampai saat ini belum ada upaya dari manejemen sekolah untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Bahkan, meja tersebut dibiarkan begitu saja dan tersebar di empat ruang kelas yang berbeda yakni kelas II, kelas III, kelas IV dan kelas V. Sedangkan kelas VI menggunakan meja buatan lokal.
Di salah satu ruangan yang digunakan oleh dua kelas (kelas I & kelas II), hanya ada tiga meja ditambah ± tujuh buah kursi tua. Padahal, berdasarkan papan informasi yang terpajang di kantor sekolah, jumlah murid yang menggunakan ruangan tersebut adalah 124 orang yakni kelas I berjumlah 59 orang dan kelas II berjumlah 64 orang. Jumlah kursi dan meja pada kelas lain yang telah disebutkan di atas tidak jauh berbeda. Pada ke-empat ruangan yang lain jumlah kursi dan meja tidak mencapai sepuluh untuk setiap ruangan.
Tidak hanya meja dan kursi siswa yang berkurang. Ke-empat ruangan lain yang telah disebut di atas tidak satu pun terlihat adanya meja dan kursi untuk guru. Yang tampak hanya satu lemari usang di setiap ruangan dengan daun pintu yang hampir terlepas dari induk lemari. Beberapa lemari diantaranya telah berdiri miring.
Lantai ruangan pun berlubang di sana sini. Kondisi ini terlihat di seluruh ruangan kelas kecuali ruangan kantor. Karena lubangnya begitu dominan, maka meja dan kursi pun berdiri miring. Jangan ditanya soal poster Pahlawan Nasional atau Pahlawan Revolusi yang umumnya terpajang di dinding sekolah-sekolah. Sebab poster Presiden, Wakil Presiden dan poster Burung Garuda pun tidak lengkap terpajang di dinding ruangan kelas.
Seperti yang dikatakan Gidalti, kondisi tersebut telah dikecam oleh beberapa tokoh masyarakat namun teguran itu tidak pernah digubris oleh manajemen sekolah.

Belajar Sambil Berdiri
Kurangnya meja dan kursi berdampak pada situasi PBM. Saat PBM berlangsung, sebagian besar siswa hanya bisa berdiri. Bahkan, yang mendapat jatah meja pun hanya berdiri karena tidak mendapat kursi. Menurut Gidalti, kondisi itu tidak hanya terjadi ketika kehadiran siswa hanya belasan orang. Situasi akan semakin parah ketika kehadiran siswa mencapai setengah dari jumlah keseluruhan.
Dengan kondisi tersebut, menurutnya, setiap guru di sekolah kewalahan dalam mengajar. Situasi kelas menyebabkan setiap guru harus ekstra sabar akibat kegaduhan yang diciptakan oleh para siswa yang belajar sambil berdiri terus saja terjadi. Memperebutkan tempat kosong pada bagian tertentu dari meja untuk tulis adalah hal yang lumrah.
Hal yang sama juga terjadi pada guru. Karena tidak tersedianya meja dan kursi untuk guru, maka para guru sejak masuk mengajar hanya berdiri hingga jam pelajaran usai. Masih menurut Gidalti, dirinya kewalahan karena kelelahan akibat kondisi itu. Sebab meski sebagai pegawai perpustakaan, dirinya sesekali masuk mengajar bila ada guru yang berhalangan hadir. Kondisi ini senada dengan penyampaian dari Andreas Atakama, A.Ma, guru kelas VI pada SD tersebut.
Sementara itu, Kepala SD GMIT Mataru Utara, Jibrael Ahalamani, A.Ma, kepada SUAR di Petleng membenarkan pernyataan dua orang stafnya di atas. Bahkan, Jibrael menambahkan bahwa ada siswa yang meletakan bukunya di lantai sebagai pengganti meja. Kondisi ini telah berlangsung lama jauh sebelum dirinya menjabat sebagai kepala sekolah.
Menyangkut kurangnya meja dan kursi, Jibrael mengatakan bahwa dirinya tidak dapat berbuat banyak karena baru ± 4 bulan dilantik menjadi kepala sekolah. Serah terima jabatan dari kepala sekolah lama pun baru berupa simbolis yakni penyerahan cap sekolah dan buku rekening. Sedangkan kunci dan lainya belum diserahkan sama sekali. Oleh sebab itu, sebagai langkah awal, pembenahan administrasi sekolah masih menjadi prioritas.
Sementara itu poster-poster pahlawan revolusi, pahlawan kemerdekaan, poster Presiden berserta wakilnya dan poster Burung Garuda awalnya memang ada. Tapi beberapa siswa yang jahil mengambil dan merusaknya.
Pengawas Sekolah, Casper Eryah, S.Pd, ketika dikonfirmasi SUAR, minggu, (20/03), mengatakan bahwa kekurangan meja dan kursi disebabkan beberapa kepala sekolah sebelumnya tidak fokus pada pengadaan mobiler (meja dan kursi). Di samping itu, diakuinya bahwa manajemen keuangan di sekolah tersebut kurang terlalu bagus. Padahal perlu diketahui bahwa SD GMIT Bagalbui adalah satu-satunya sekolah penerima dana BOS terbesar di Kecamatan Mataru yakni ± 28 juta/triwulan. Sedangkan menyangkut tidak adanya poster-poster di dinding sekolah, Casper mengatakan bahwa itu disebabkan guru-guru sering meninggalkan sekolah berlama-lama. Sehingga kontrol terhadap siswa menjadi berkurang. Semi/cha